UPAYA GREENPEACE DALAM MEMPENGARUHI KEBIJAKAN LINGKUNGAN DI AUSTRALIA PADA MASA PEMERINTAHAN PM. KEVIN RUDD

Inne Anggia, Prawesti (2011) UPAYA GREENPEACE DALAM MEMPENGARUHI KEBIJAKAN LINGKUNGAN DI AUSTRALIA PADA MASA PEMERINTAHAN PM. KEVIN RUDD. Other thesis, UPN "Veteran" Yogyakarta.

[img]
Preview
PDF
Download (119Kb) | Preview

    Abstract

    Salah satu isu lingkungan di Australia yang populer baru-baru ini adalah kebakaran yang sempat mengepung wilayah negara tersebut. Jika melihat rekaman media, maka kebakaran bukanlah hal yang baru bagi Australia. Beberapa media dunia misalnya menyebut Australia sebagai benua yang mudah terbakar. Secara alami benua Australia itu memang paling mudah dijilat api dibandingkan dengan benua lainnya di dunia. Iklim yang kering dan gelombang panas yang kadang singgah, ditambah dengan vegetasi semak dan hutan pohon eukaliptus yang kaya minyak, membuat api adalah bagian intrinsik dari dataran negeri benua itu. Kebijakan pemerintah Australia lain yang berkaitan dengan Greenpeace adalah isu skema pengurangan polusi karbon (CPRS). Harian Republika menyebutkan memberitakan bahwa kelompok pencinta lingkungan, Greenpeace Australia menuding Perdana Menteri Kevin Rudd telah “berkhianat” pada ilmu pengetahuan dan generasi mendatang negaranya akan skema pengurangan polusi karbon (CPRS) yang diumumkan hanya mematok target pengurangan emisi 5%. Di bawah aturan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ratifikasi Protokol Kyoto akan berlaku 90 hari setelah instrumen ratifikasi diterima PBB. Bergabungnya Australia ke dalam Protokol Kyoto itu merupakan “langkah maju yang signifikan” dalam upaya Australia ikut merespon dampak negatif perubahan iklim di dalam negeri dan bersama-sama masyarakat internasional. Dengan keikutsertaan resmi negara Australia dalam perjanjian ini, berarti Australia berkewajiban berupaya memenuhi target Protokol Kyoto. Target-target dimaksud adalah mematok pengurangan emisi hingga 60% pada level 2.000 hingga tahun 2050, dan membentuk skema perdagangan emisi nasional pada 2010. Selain itu, Australia pun diminta mematok target 20% untuk energi yang dapat diperbaharui hingga tahun 2020 dengan cara memperluas pemakaian sumber-sumber energi yang dapat diperbaharui secara dramatis, seperti energi matahari dan angin. Greenpeace menyebutkan, target pengurangan sebesar 5 % itu tidak sesuai dengan janjinya dalam pemilu tahun 2007 dan merupakan pengkhianatan dirinya terhadap ilmu pengetahuan dan generasi mendatang Australia yang hidup bersama dampak perubahan iklim. Ketidaksetujuan Greenpeace pada langkah pemerintahan Kevin Rudd ini ditunjukan dengan aksi unjuk rasa di kantor pemerintah dan gedung parlemen berbagai kota utama di Australia. Demonstrasi di lakukan di kota-kota seperti : Sydney, Melbourne, Canberra, Adelaide dan Perth. Sehari sebelumnya PM Kevin Rudd mengumumkan skema pengurangan polusi karbon (CPRS) yang mulai diberlakukan tahun 2010. PM Kevin Rudd menyebut skema yang diyakininya membantu Australia mencapai target pengurangan polusi karbon tahun 2020 itu sebagai salah satu reformasi struktural ekonomi Australia terbesar dan terpenting. Dalam bidang lingkungan hidup, kebijakan Rudd pun banyak mendapat simpati dari Greenpeace. Beberapa jam setelah dilantik pada 3 Desember 2008, Rudd menandatangani Protokol Kyoto untuk upaya memerangi perubahan iklim secara domestik dan dengan komunitas internasional. Peran dia dalam Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Bali tahun 2007 menjadi semakin penting. Greenpeace dikenal menggunakan aksi langsung bersama dengan konfrontasi damai dalam melakukan kampanye untuk menghentikan pengujian nuklir angkasa dan bawah tanah, begitu juga dengan kampanye menghentikan penangkapan ikan paus besar-besaran. Pada tahun-tahun berikutnya, fokus organisasi mengarah ke isu lingkungan lainnya, seperti penggunaan pukat ikan, pemanasan global, dan rekayasa genetika. Greenpeace sebagai organisasi internasional memiliki misi sebagai organisasi independent yang berkampanye menggunakan konfrontasi kreatif antikekerasan untuk mengungkap permasalahan lingkungan global, dan untuk memaksa solusi bagi sebuah masa depan yang damai dan hijau. Target Greenpeace adalah untuk memastikan kemampuan bumi untuk kelangsungan hidup bagi semua keanekaragamannya. Berdasarkan Kyoto Protocol, Australia mendapat kewajiban untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sesuai dengan Annex I Kyoto Protocol. Yang berkewajiban mengurangi emisi GRK adalah negara-negara maju. Sedangkan kewajiban negara berkembang adalah menghapuskan kemiskinan, yang merupakan sumber utama kerusakan lingkungan dan perambahan hutan

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: 300 Ilmu Sosial
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional
    Depositing User: Eny Suparny
    Date Deposited: 02 Nov 2011 10:33
    Last Modified: 02 Nov 2011 10:33
    URI: http://repository.upnyk.ac.id/id/eprint/1235

    Actions (login required)

    View Item