KEPENTINGAN AUSTRALIA DI TIMOR LESTE

NINOV, Irfan (2011) KEPENTINGAN AUSTRALIA DI TIMOR LESTE. Other thesis, UPN "VETERAN" YOGYAKARTA.

[img]
Preview
PDF
Download (41Kb) | Preview

    Abstract

    Konflik di Timor Leste mencapai titik kulminasi pada tanggal 11 Februari 2008 pagi dengan terjadinya serangan bersenjata yang dilakukan Mayor Alfredo Reinado terhadap Presiden Jose Ramos Horta dan PM Xanana Gusmao. Ramos Horta mengalami luka tembak serius, sementara Xanana Gusmao dapat menyelamatkan diri. Bila diteliti dari awal, kekisruhan berawal dari konflik internal ditubuh Angkatan Bersenjata Timor Leste (FDTL). Kelompok wilayah Barat (Loro Monu) merasa dianaktirikan dan diskriminasi oleh Panglima FDTL, Brigjen Taur Matan Ruak beserta para pemimpin tentara yang berasal dari kawasan Timur (Loro Sae). Sebagai protes, 600 anggota pasukan Loro Monu melakukan pembangkangan dan desersi. Pada April 2006, Panglima FDTL melakukan pemecatan masal terhadap 600 anggota FDTL personel dibawah pimpinan Lettu Gastao Salsinha atas perintah PM Marie Alkatiri. Pasukan yang dipecat sangat marah, Mayor Reinado dan Mayor Augusto serta pasukan Lettu Salsinha melakukan pemberontakan, dan memicu kerusuhan di Dilli. Australia sangat agresif dalam membantu Timor Leste, ini terlihat dengan bantuan Militer Australia dalam membantu memulihkan keamanan di Timor Leste pasca Referendum 1999, serta krisis politik dan keamanan di Timor Leste bulan April hingga Mei 2006. Secara global negara-negara besar memiliki kepentingan terhadap negara-negra kecil, begitu juga Australia. Australia memiliki kepentingan yang besar terhadap Timor Leste, baik kepentingan politik maupun ekonomi yang menjadi dasar bagi langkah baru Australia terhadap Timor Leste. Australia menjadikan isu Timor Leste menjadi perhatian publik Australia. Dari reaksi rakyat Australia terhadap gejolak yang terjadi di Timor Leste dibenarkan Australia melaksanakan kebijakan luar negerinya dengan mendorong masuknya tentara mereka ke Timor Leste. Sedangkan kepentingan Australia yang berdimensi ekonomi didorong oleh kebutuhan menemukan sumber energi baru. Oleh karena itu, Australia berusaha menyelamatkan kekayaan alam Timor Leste dengan memberikan jasa keamanan di negara tersebut di bawah payung PBB. Berdasarkan uraian diatas, judul ini menarik untuk dijadikan bahan kajian skripsi karena akan membahas “Kepentingan Australia Dalam Menangani Krisis Politik Dan Keamanan Timor Leste”. Hubungan antara Australia dan Timur Leste sudah terjalin sejak lama. Australia mulai menanamkan pengaruhnya sejak proses referendum pada pertengahan 1999, hingga kini pengaruh yang diberikan kepada Timor Leste secara immaterial adalah memberikan dukungan politik di PBB dan memberikan keleluasaan pada Timor Leste. Pasukan Australia yang merupakan bagian dari pasukan yang tergabung dalam misi perdamaian PBB masih tetap berada di Timor Leste untuk menjaga keamanan negara tersebut. Ditinjau dari sudut pandang geografis, Timor Leste memang mempunyai nilai yang sangat strategis. Setidaknya itu bisa dilihat dari banyaknya negara yang telah membuka perwakilan diplomatik di Dili. Ada Australia, Amerika Serikat, Jepang, Indonesia, Selandia Baru, Portugal, Malaysia, Korea Selatan, Irlandia dan Komisi Eropa. Di samping itu beberapa negara lainnya menjalin hubungan diplomatik dengan merangkap perwakilannya dengan Jakarta. Australia ingin memainkan perannya dalam menjamin keamanan dan stabilitas Timor Leste. Australia menyatakan kembali dukungannya terhadap pertumbuhan dan pembangunan jangka panjang di Timor Leste. Pernyataan tersebut menunjukan nilai dan arti penting Timor Leste bagi Australia. Dalam kaitan dengan kebijakan luar negeri negaranya, PM Kevin Rudd memang lebih fokus pada pelibatan untuk mengamankan Australia dari ancaman di kawasan Asia-Pasifik dari pada luar kawasan. Politik luar negeri suatu negara sesungguhnya merupakan hasil perpaduan dan refleksi dari politik dalam negeri yang dipengaruhi oleh perkembangan situasi regional maupun internasional. Demikian pula halnya dengan politik luar negeri Australia yang tidak terlepas dari pengaruh beberapa faktor, antara lain posisi geografis yang strategis, potensi sumber daya alam dan manusia berikut susunan demografi, dan sistem sosial- politik yang sangat mempengaruhi sikap, cara pandang serta cara mereka memposisikan diri di forum internasional. Di lingkup internasional, perubahan-perubahan mendasar dalam dinamika internasional dan globalisasi saat ini dicirikan antara lain, perubahan sistem politik global dari bipolar ke multipolar, menguatnya interlinkages antara forum global, interregional, regional, sub-regional dan bilateral; meningkatnya peran aktor-aktor non-negara dalam hubungan internasional; dan munculnya isu-isu baru di dalam agenda internasional seperti HAM, demokratisiasi, lingkungan hidup dan sebagainya yang dampak utamanya adalah semakin kaburnya batas dan kedaulatan negara dalam pergaulan antar bangsa. Dalam memahami kebijakan luar negeri Australia, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebijakan luar negeri Australia, yaitu faktor keamanan dalam negeri, dan kepentingan ekonomi. Untuk memahami kebijakan politik luar negeri Australia tidak terlalu sulit, namum dalam rentang waktu yang berbeda akan menemukan keaneahan dalam perbedaan sikap yang dijalankan oleh Australia, khususnya dalam hubungannya dengan Indonesia. Mengenai kebijakan luar negeri Australia tersebut dapat ambil dari pernyataan Alan Renouf dalam bukunya “the Frightened Country” dalam buku tersebut ia mengatakan bahwa kebijakan politik luar negeri Australia sangatlah bergantung pada beberapa hal, antara lain faktor geografis, sejarah, power, dan politik nasional.1 Republik Demokrat Timor Leste (RDTL) adalah sebuah Negara kecil di sebelah utara Australia dan bagian timur pulau Timor yang berbatasan dengan wilayah Indonesia. Tanggal 11 February 2008, menjadi sejarah hitam atas konflik yang terjadi di Timor Leste, dimana terjadinya upaya pembunuhan terhadap Presiden Ramos Horta dan PM Xanana Gusmao yang dilakuakan oleh Mayor Alfredo dan kelompoknya. Serangan tersebut menyebabkan Ramos Horta mendapatkan luka serius. Walau pada akhirnya menewaskan Mayor Alfredo itu sendiri2. Yang menarik untuk dicermati adalah munculnya reaksi cepat Australia setelah kejadian itu, antara lain: (a) Australia langsung membawa Presiden Ramos Horta berobat ke Darwin; (b) dua hari setelah peristiwa itu, PM Australia mengunjungi Timor Leste; (c) menambah jumlah pasukannya yang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB di Timor Leste. Pasca percobaan pembunuhan terhadap Presiden Ramos Horta dan PM Xanana Gusmao oleh kelompok bersenjata pimpinan Mayor Alfredo Rainado, pemerintah Australia melalui PM Kevin Ruud menyetujui penambahan pasukan Australia yang berjumlah 350 orang ke Timor Leste untuk memenuhi permintaan Dili3, di mana pasukan Australia telah berada di Timor Leste semenjak pecahnya konflik intern di tubuh militer Timor Leste. Berikut adalah data tentara Australia di Timtim sejak 1999- 2008  Tergabung dalam INTERFET atau Internasional Force for East Timor (1999-2000), tentara multinasional di Timor Timur atas mandat PBB untuk menjaga perdamaian, mengatasi krisis, dan tugas kemanusian. Dikomandani Mayor Jendral Peter Cosgrove dari angkatan Bersenjata Australia (ADF). Australia negara terbanyak yang mengirimkan pasukannya.  Tergabung dalam UNTAET atau United Nations Transitional Administration in East Timor, lima bulan setelah Interfet beroperasi.  Tergabung dalam UNAMET atau United Nations Mission in East Timor bersama Tentara Nasional Indonesia dan Angkatan Bersenjata Selandia Baru. Selanjutnya di Canbera PM Kevin Rudd menyatakan, Australia ingin memainkan peranannya dalam menjamin keamanan dan stabilitas Timor Leste. Dia menyatakan kembali dukungannya terhadap pertumbuhan dan pembangunan jangka panjang di Timor Leste.4 Pernyataan tersebut menunjukkan nilai dan arti penting Timor Leste bagi Australia. Dalam kaitan kebijakan pertahanan negaranya, PM Kevin Rudd memang lebih fokus pada pelibatan untuk mengamankan Australia dari ancaman dikawasan Asia-Pasifik daripada di luar kawasan. Krisis kawasan dinilai akan berpengaruh langsung terhadap keamanan nasionalnya. Kekuatan militer harus mampu diproyeksikan ke kawasan di sekitarnya yang dinilai rawan, tidak stabil, ekonominya lemah, ataupun gagal dalam menangani keamanan dan ketertiban. Australia selalu memandang musuh akan datang dari utara, karena itu arah pertahanan difokuskan ke utara. Dengan kondisi keamanan Timor Leste yang sulit untuk stabil dan bertambahnya jumlah pasukan Australia di Timor Leste, hal ini memberikan kesempatan bagi Australia untuk memperkuat cengkeramannya atas Timor Leste. Di balik sikap Australia itu terdapat keinginan untuk menguasai sumber minyak di perbatasan. Akses terhadap energi ini tak bisa disangkal menjadi pendorong semangat Australia ikut campur tangan dalam menangani gejolak di Timor Leste pasca jajak pendapat. Menurut Mudrajad, kesepakatan Celah Timor (Timor Gap) yang ditandatangani Indonesia-Australia tahun 1989 menyutujui pembagian 62.000 km persegi zona kerja sama menjadi tiga wilayah. Wilayah joint development merupakan wilayah yang berada di tengah dan terbesar dimana kedua negara berhak mengontrol eksplorasi dan produksi migas. Dalam catatan di ladang Bayu- Undan, ditaksir punya cadangan minyak 400 juta barel, tiga trilyun kubik gas alam dan 370 juta barel cairan (kondensat dan LPG)5. Minyak yang dilukiskan sangat besar kandungannya di perbatasan timor Leste-Australia merupakan asset penting bagi perkembangan ekonomi masa depan negeri kangguru itu. Tiga ribu pasukan keamanan internasional yang dipimpin oleh Australia berada di Timor Leste sejak kerusuhan tahun 2006. Bantuan komunitas internasional dan PBB untuk mengatasi krisis di negara itu juga diperkuat dengan kedatangan Sekertaris Jendral Perserikatan Bangsa-bangsa. Masih butuh waktu untuk meredakan konflik di negeri termuda Asia Tenggara tersebut. Apalagi terdapat pula akar pertikaian yang rumit. Kini keberadaan pasukan asing di bawah komando Australia dituntut untuk berperan secara objektif sebagai pengawas penyelesaian sengketa di antara kubu-kubu yang bertikai. Jika Australia mengambil peran dengan memperhitungkan kepentingan-kepentingan mereka, bukan tidak mungkin jebakan konflik panjang yang justru akan menanti rakyat Timor Leste. Keterlibatan Australia dalam masalah Timor Timor (Timor Leste) sudah ada sejak wilayah tersebut (Timor Leste) dinyatakan jadi bagian Republik Indonesia. Australia sangat agresif dalam membantu Timor Leste, ini terlihat dengan bantuan Militer Australia dalam membantu memulihkan keamanan di Timor Leste pasca referendum 1999 dan Krisis Politik dan Keamanan di Timor Leste Bulan April dan Mei 2006. Secara global Negara-negara besar memiliki kepentingan terhadap Negara-negara kecil, begitu juga Australia, Australia memiliki kepentingan yang besar terhadap Timor Leste baik kepentingan politik dan keamanan maupun ekonomi menjadi dasar bagi langkah baru Australia terhadap Timor leste. Australia menjadikan isu Timor Leste menjadi perhatian public Australia, dari reaksi rakyat Australia terhadap gejolak di Timor leste itu dibenarkan Australia melaksanakan kebijakan luar negerinya dengan mendorong masuk tentaranya ke Timor Leste. Sedangkan kepentingan Australia yang berdimensi ekonomi didorong oleh kebutuhan menemukan sumber energy baru. Celah timor yang sudah dieksplorasi dan diperkirakan mengandung cadangan minyak yang kaya menjadi alasan utama di masa depan. Australia juga berkepentingan agar Timor leste ini juga tidak menjadi sumber instabilitas kawasan Asia Tenggara yang jadi zona penyangga keamanannya dari serangan utara dan juga tidak adanya militer base yang dibangun oleh Negara lain. Selain untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, kehadiran Australia di Timor leste juga menunjukkan adanya indikasi kepentingan pertahanan dan keamanan. Memahami tujuan ini harus dilihat dari kepentingan keamanan Australia atas lingkungan internal Timor Leste serta keamanan lingkungan strategis Australia. Selain itu, kepentingan itu juga diperjuangkan dalam dua jangka waktu, yakni masa kini dan yang akan datang (jangka panjang). Kepentingan jangka pendek Australia adalah untuk menjaga stabilitas keamanan Timor Leste karena hal tersebut sangat dibutuhkan guna mendukung kelancaran kegiatan eksplorasi dan keamanan bagi investasinya di celah Timor. Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah mencegah agar Timor Leste tidak jatuh dalam keter;urukan ekonomi yang makin parah yang dapat memicunya menjadi Negara gagal. Pertahanan keamanan nasional menjadi taruhannya apabila Timor Leste jatuh. Ancaman terorisme internasional kini bukan lagi menjadi masalah Negara-negara tertentu saja, akan tetapi setiap Negara yang ada dimuka bumi ini sekali waktu dapat menjadi sasaran tindakan tidak berperikemanusiaan ini. Australia yang bertindak sebagai “deputy sherrif” Amerika Serikat dalam tugas menjaga pertahanan keamanan di kawasasn Asia Pasifik sangat berpotensi bagi berkembangnya terorisme.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: 300 Ilmu Sosial
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional
    Depositing User: Ratna Sufiatin
    Date Deposited: 31 Oct 2011 14:58
    Last Modified: 31 Oct 2011 14:58
    URI: http://repository.upnyk.ac.id/id/eprint/1343

    Actions (login required)

    View Item