PERUBAHAN SIKAP CHILE TERHADAP KONFLIK ISRAEL-PALESTINA

RANGGA, I Putu Mahendra (2011) PERUBAHAN SIKAP CHILE TERHADAP KONFLIK ISRAEL-PALESTINA. Other thesis, UPN "VETERAN" YOGYAKARTA.

[img]
Preview
PDF
Download (16Kb) | Preview

    Abstract

    Konflik di Israel dengan negara-negara Arab di Timur Tengah terjadi karena adanya dua kelompok masyarakat berbeda Israel, dari bangsa Yahudi, dan Palestina dari bangsa Arab yang ingin membangun negara di tempat yang sama. Daerah yang menjadi perebutan di antaranya Jerusalem Timur, Jalur Gaza, dan Tepi Barat dengan motif penggusuran pemukiman Palestina oleh Israel. Konflik dimulai ketika 14 Mei 1948, pemimpin Zionis, aktivis gerakan yang mengupayakan negara Yahudi, mendeklarasikan kemerdekaan untuk negara mereka yang diberi nama Israel di wilayah Palestina. Kemudian, Arab yang tidak menginginkan sebuah negara Yahudi muncul, pada 15 Mei 1948 menyerang Israel. Muncullah peperangan dan konflik berikutnya, hingga yang terakhir ketika Israel pada 17 November 2009 menyetujui pembuatan rumah Yahudi di Tepi Barat Sungai Jordan. Konflik Israel-Palestina, adalah konflik yang terus berlanjut antara bangsa Israel dan bangsa Palestina. Konflik Israel-Palestina ini bukanlah sebuah konflik dua sisi yang sederhana, seolah-olah seluruh bangsa Israel memiliki satu pandangan yang sama, sementara seluruh bangsa Palestina memiliki pandangan yang sebaliknya. Di kedua komunitas terdapat orang-orang dan kelompok-kelompok yang menganjurkan penyingkiran satu komunitas dari komunitas yang lainnya, sebagian menganjurkan solusi dua negara, dan sebagian lagi menganjurkan solusi dua bangsa dengan satu negara sekular yang mencakup wilayah Israel masa kini, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur. Sejak Persetujuan Oslo, Pemerintah Israel dan Otoritas Palestina (OP) secara resmi telah bertekad untuk menggunakan solusi dua negara. Masalah utama konflik Israel-Palestina adalah egoisme yang berlebihan dari dua pihak. Di satu sisi, Israel tidak mau mengakui eksistensi Palestina. Sebaliknya, Palestina juga tidak mengakui eksistensi Israel di sisi lain. Kenyataan itu sangat menyulitkan peta untuk mewujudkan solusi dua negara yang hidup berdampingan secara damai. Sebab itu, harus ada kepemimpinan transformatif untuk membuka lembaran baru sembari melupakan masa lalu yang kelam. Dalam konflik Israel-Palestina, banyak pro dan kontra dalam dukungan negara-negara terhadap Israel dan Palestina. Di masyarakat Barat seperti Inggris, Kanada, Australia, Spanyol dan Portugal, diketahui dukungan terhadap Israel ditemukan semakin berkurang. Hasil survei yang dilakukan oleh GlobeScan untuk BBC yang dilakukan di 27 negara yang berbeda menunjukkan 21% menyatakan pendapat positif mereka terhadap Israel, sementara 49% menyatakan sikap negatif terhadap Israel. Di Amerika Serikat sebanyak 43% mendukung Israel sedangkan 41% menentang negara itu, di Rusia rasionya adalah 35% sampai 27%, di Ghana 32% hingga 27%, dan di India 21% sampai 18%. Dua puluh tiga negara lainnya yang disurvei mengungkapkan mayoritas masyarakat menentang Israel. Cina adalah satu-satunya negara di mana dukungan untuk Israel semakin tumbuh sebesar 10% tetapi tetap pada rasio 40% sampai 48%. Munculnya dukungan negara-negara Amerika Latin, termasuk Chile terhadap Palestina memberi masukan bagi proses perdamaian Irael-Palestina. Selama ini masyarakat Amerika Latin terkesan apatis atau bahkan netral dengan isu Israel-Palestina. Chile sendiri dalam hal ini mengalami perubahan sikap terhadap konflik Israel-Palestina. Beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan sikap tersebut antara lain, pertama adanya peningkatan hubungan Amerika Latin dengan Negara-negara Arab dan kedua makin eratnya hubungan Chile pada masa pemerintahan Sebastian Pinera dengan aliansi Negara-negara di Amerika Latin. Perubahan sikap Chile terhadap konflik Israel-Palestina ini ditunjukan dengan keikutsertaan Chile dalam mengakui kedaulatan Palestina yang sebelumnya Negara-negara Amerika latin lainnya seperti, Brasil, Argentina, dan Bolivia mengumumkan bahwa mereka mengakui kedaulatan Negara Palestina. Perubahan sikap pemerintahan Chile pada masa pemerintahan Sebastian Sebastian Pinera juga secara tidak langsung dipengaruhi oleh gempa bumi yang menimpa Chile pada tahun 2010. Perubahan sikap ini dilandasi oleh kebutuhan ekonomi yang terpuruk pasca gempa yang melanda Chile. Gempa bumi 8,8 skla-richter yang melanda Chile pada bulan Februari 2010 adalah salah satu dari sepuluh gempa bumi terkuat dalam catatan atas. Hal ini menyebabkan kerusakan besar di dekat pusat gempa, terletak sekitar 70 mil dari Concepcion - dan sekitar 200 mil barat daya dari Santiago. Akibatnya, Chile memiliki utang $ 11 miliar yang merupakan jumlah yang besar untuk sebuah negara kecil. Chile baru-baru ini mencairkan dana untuk membantu menciptakan lapangan kerja, memungkinkan untuk menghindari dampak terburuk dari krisis keuangan global. Sekarang, beberapa penghematan dapat digunakan untuk membiayai rekonstruksi jalan raya dan infrastruktur lainnya yang hancur oleh gempa 8,8 SR. Gempa ini dikhawatirkan akan memberikan pukulan telak bagi pertumbuhan ekonomi Chile. Perubahan sikap Chile dalam Konflik Timur- Tengah serta komunitas Arab di Chile yang besar diyakini dapat memainkan peran penting dalam perkembangan pembicaraan dengan Negara-negara Arab, khususnya adalah UEA dengan membantu industri makanan Chile dalam mengupayakan aplikasi sertifikat halal. Komisaris kerjasama perdagangan Chile ke UEA Carlos Salas, mengatakan jika kebijakan kerjasama ekonomi FTA Chile dengan Negara-negara arab yang memiliki produksi pangan yang tidak terlalu bagus atau kuat, maka Chile dapat menempatkan diri mereka pada peringkat dari 17 ke 10 negara-negara eksportir pada tahun 2020. Yang secara langsung akan mendongkrak perekonomian mereka yang memburuk pasca gempa. Proposal untuk FTA dengan Negara-negara arab telah diserahkan enam bulan lalu dan Andres Rebolledo Smitmans, direktur untuk urusan ekonomi bilateral di Kementerian Luar Negeri Chili di Santiago, memperkirakan seluruh proses akan memakan waktu tiga tahun. Selain dalam bidang ekonomi perubahan sikap Chile dilandasi oleh Dengan mayoritas negera-negara Amerika latin yang mendukung Palestina serta Gerakan kebangkitan Sosialisme yang dicanangkan negaranegara Amerika Latin dan juga menguatnya golongan sayap kiri di kawasan Amerika Latin, sangat berpengaruh dalam perubahan sikap yang diambil pemerintahan Chile terhadapap konflik yang terjadi di timur-tengah. Hal ini terjadi karena adanya keinginan Chile untuk memperkuat posisi mereka dalam politik kawasan di lingkup Negara-negara Amerika Latin. Chile bertekad menjadikan benua Amerika sebagai zona perdagangan bebas dengan cara menjalin kerjasama ekonomi yang telah ada seperti MERCOSUR, Masyarakat Andean (CAN), NAFTA dan Kerjasama Ekonomi Negara-negara Amerika Tengah dan Karibia (CARICOM). Aktifnya Chile dalam menjalin kerjasama internasional tersebut merupakan perubahan baru yang dibuat oleh pemerintahan Sebastian Pinera dalam upaya memperbaiki hubungan Chile dengan Negaranegara Amerika latin lainnya

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: 300 Ilmu Sosial
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional
    Depositing User: Ratna Sufiatin
    Date Deposited: 31 Oct 2011 13:51
    Last Modified: 31 Oct 2011 13:51
    URI: http://repository.upnyk.ac.id/id/eprint/1386

    Actions (login required)

    View Item