DUKUNGAN JERMAN TERHADAP RENCANA REFORMASI CAP (COMMON AGRICULTURAL POLICY) UNI EROPA

WIGATI, Diah (2011) DUKUNGAN JERMAN TERHADAP RENCANA REFORMASI CAP (COMMON AGRICULTURAL POLICY) UNI EROPA. Other thesis, UPN "VETERAN" YOGYAKARTA.

[img]
Preview
PDF
Download (112Kb) | Preview

    Abstract

    Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam perekonomian Uni Eropa. Untuk mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pertanian Uni Eropa, maka dibentuklah Kebijakan Pertanian Bersama Uni Eropa (Common Agricultural Policy/CAP). Dalam perekonomian Uni Eropa, sektor pertanian selalu memperoleh porsi terbesar dalam setiap penetapan anggaran tahunan Uni Eropa, bahkan mencapai lebih dari 40% dari total anggaran yang disediakan. Sebagian besar dari anggaran tersebut diperuntukkan bagi subsidi petani di negaranegara anggota Uni Eropa,dengan Jerman sebagai penyumbang subsidi terbesar yaitu 164 miliar Euro. Prisip utama CAP ialah berusaha untuk menciptakan pasar tunggal bagi pertanian Eropa serta memberikan jaminan produktifitas bagi para petani dengan mensubsidi pertanian dengan memberikan protektionisme untuk memberikan prioritas bagi produk yang diimpor atau sering disebut dengan Community Preference hal tersebut sesuai dengan Traktat Roma. Besarnya anggaran yang dibutuhkan untuk membiayai kebijakan-kebijakan CAP, khususnya subsidi pertanian tersebut menimbulkan kritik dari berbagai pihak yang mendorong munculnya usulan mengenai pemotongan subsidi pertanian melalui Reformasi CAP. Usulan pertama kali muncul pada awal tahun 1968, dimana sebuah proposal radikal mengenai CAP diajukan oleh Mansholt Plan. Tetapi, walau pada saat itu terjadi reformasi terhadap CAP, beberapa dari usulan tersebut mengalami kegagalan. Kegagalan dari reformasi melalui Mansholt Plan tersebut disebabkan oleh pengaruh yang sangat kuat dari para petani. Mansholt juga mencatat bahwa standart hidup petani tidak membaik sejak adanya CAP, meskipun peningkatan produksi dan kenaikan tetap dalam pengeluaran petani. Karena itu ia menyarankan bahwa metode produksi harus di reformasi dan dimodernisasi. Tujuan dari Mansholt adalah untuk mendorong hampir lima juta petani menyerah pada pertanian sehingga memungkinkan untuk mendistribusikan kembali tanah mereka dan menigkatkan perternakan. Petani dianggap layak jika mereka bisa menjamin bagi pendapatan tahunan pemiliknya rata-rata sebanding dengan semua pekerja di wilayah tersebut. Usulan reformasi CAP yang berisikan pemotongan subsidi pertanian pertama kali diajukan oleh Komisi Eropa. Pengajuan usulan ini dilatarbelakangi oleh faktor-faktor sebagai berikut: pertama, untuk memperkuat posisi runding Uni Eropa di tingkat World Trade Organization (WTO); kedua, mengantisipasi penggelembungan kebutuhan dana subsidi pertanian sehubungan dengan bergabungnya 10 negara anggota baru pada tahun 2004; ketiga, persiapan penyusunan anggaran sektor pertanian Uni Eropa untuk periode 2006-2013. Usulan pemotongan subsidi pertanian ini didukung oleh beberapa negara anggota Uni Eropa khususnya Jerman. Jerman merupakan negara yang paling banyak memberikan kontribusi terhadap terbentuknya Uni Eropa. Tanpa adanya suatu negara yang kuat dan aktif seperti Jerman, tidak akan pernah ada Uni Eropa. Alasan dukungan Jerman tersebut antara lain adalah: karena subsidi yang diberikan oleh CAP dianggap merugikan bagi kepentingan ekonomi Jerman, sehingga membuat Jerman harus memberikan kontribusi pertanian sesuai dengan apa yang sudah di tetapkan oleh Komisi Eropa terhadap negara-negara anggotanya. Hasil produksi pertanian serta jumlah petani yang kurang, menjadikan Jerman terkenal sebagai negara importir terbesar di Eropa. Posisi Jerman di Uni Eropa secara formal sama dengan negara-negara anggota lainnya, akan tetapi secara historis menempatkan Jerman sebagai negara yang senior dan dianggap paling memahami dinamika dan arah Uni Eropa. Secara formal kedudukan tiap-tiap negara di atur dalam berbagai traktat dan diperkuat dalam struktur lembaga atau organisasi Uni Eropa. Pertanian merupakan sektor kecil bagi ekonomi Jerman. Pada tahun 1989 hanya sebesar 1,6% saja dari PDB Jerman Barat, meskipun pangsa pertanian di Jerman Timur dua kali lebih tinggi. Bahkan setelah dua ekonomi benar-benar bersatu, pangsa pertanian diperkirakan hanya berjumlah 2% saja. Meskipun ukurannya sangat kecil namun sektor pertanian tetap sektor penting bagi ekonomi Jerman. Pemerintah Jerman berperan sebagai fasilitator. Hal ini membawa keadaan kepada Eropa bersatu sebagai perwujudan lebih lanjut dari Masyarakat Ekonomi Eropa. Sejak awal proses pembentukkan Uni Eropa, Jerman terus mendorong berbagai asosiasi perusahaan, khususnya usaha kecil dan menengah untuk mengembangkan usahanya di Eropa. CAP telah menjadi sumber utama anggaran Uni Eropa. Meskipun anggaran Uni Eropa telah menurun lebih dari 70% pada tahun 1970, pada tahun 1997 45,8% setara dengan ECU40, 81 miliar. Jerman tetap menjadi kontributor utama bagi anggaran Uni Eropa, yaitu $ US 16,75 miliar pada tahun 1995, diikuti oleh Inggris yaitu $ US 5,875 miliar. Kontribusi lebih dari suatu negara adalah kelebihan pembayaran atas penerimaan atau sebaliknya bagi penerima manfaat bersih. Seiring berjalannya waktu CAP justru merusak kebijakan mutu di Uni Eropa. Mark Malloch Brown, mantan kepala Program Pembangunan PBB, diperkirakan bahwa biaya subsidi pertanian negara-negara miskin sekitar USD $ US 50 miliar per tahun dalam ekspor pertanian yang hilang: "Ini adalah distorsi yang luar biasa dari perdagangan global, di mana Barat menghabiskan $ US 360.000.000.000 per tahun untuk melindungi pertanian dengan jaringan subsidi dan tarif bahwa biaya negara-negara berkembang sekitar $ US 50 miliar dalam potensi ekspor pertanian hilang. Lima puluh miliar dolar saat ini setara dengan tingkat bantuan pembangunan." CAP mendistribusikan kembali kekayaan tanpa kriteria suara yang akan mengarahkan uang untuk individu miskin, daerah, atau negara-negara anggota. Akibatnya, setiap negara anggota mencoba meraih pangsa terbesar untuk mendapatkan uang tambahan di bidang-bidang kebijakan lain sebagai kompensasi untuk memperoleh pembayaran pertanian yang relatif sedikit. Hal tersebut merngakibatkan terjadinya defisit anggaran dalam tubuh CAP.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: 300 Ilmu Sosial
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional
    Depositing User: Ratna Sufiatin
    Date Deposited: 31 Oct 2011 13:51
    Last Modified: 31 Oct 2011 13:51
    URI: http://repository.upnyk.ac.id/id/eprint/1387

    Actions (login required)

    View Item