HUBUNGAN CINA-IRAN PASCA SANKSI DK PBB TERHADAP KEBIJAKAN NUKLIR IRAN (RESOLUSI NO 1696 TAHUN 2006)

Nadia Frista Lien, Alingga (2011) HUBUNGAN CINA-IRAN PASCA SANKSI DK PBB TERHADAP KEBIJAKAN NUKLIR IRAN (RESOLUSI NO 1696 TAHUN 2006). Other thesis, UPN "VETERAN" YOGYAKARTA.

[img]
Preview
PDF
Download (24kB) | Preview

Abstract

Cina tidak pernah menggunakan vetonya untuk mencegah dikeluarkannya resolusi-resolusi DK PBB terkait program nuklir Iran. Cina justru mendukung setiap resolusi yang disahkan PBB setelah melalui proses negosiasi panjang. Namun, dukungan Cina dalam setiap resolusi tersebut tidak membuat Iran memutuskan hubungannya dengan Cina, karena hubungan yang terjalin diantara kedua negara tersebut didasarkan pada kepentingan nasional dari masing-masing pihak. Bagi Cina, selain sebagai negara tujuan ekspor industrinya, Iran juga merupakan negara pemasok minyak mentah terbesar ketiga baginya. Ketergantungan Cina terhadap minyak dan gas semakin meningkat, seiring perkembangan industri di negara tersebut. Cina menanamkan banyak investasi serta membantu Iran dalam mengeksplorasi ladang minyak di kawasan tersebut, untuk mendapat kemudahan dalam pasokan energinya. Dalam bidang politik, Cina melihat Iran sebagai kekuatan regional baru di kawasan Timur Tengah, dimana upaya pengembangan nuklirnya telah menjadi ancaman bagi negara di sekitarnya dan AS. Cina memandang Iran sebagai negara yang independen dari pengaruh barat, sehingga Iran menjadi sekutu yang potensial bagi Cina dalam melawan hegemoni AS. Cina juga ingin memperbaiki citranya di kawasan Asia Tengah, dengan tetap memberikan bantuan terhadap Iran melalui kerjasama bilateral di antara keduanya. Bagi Iran, Cina menjadi negara eksportir besar bagi Iran dalam bidang mesin dan peralatan, tekstil, produk kimia dan barang-barang konsumsi. Selain itu banyak perusahaan minyak Cina yang menanamkan investasinya di Iran. Perusahaanperusahaan tersebut membantu Iran dalam penyulingan minyak dan gas karena minimnya teknologi yang dimiliki Iran. Secara tidak langsung ini akan membantu meningkatkan produksi minyak dan gas iran yang akan mendukung pula pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Secara politik Iran menganggap Cina sebagai kekuatan besar yang dapat menandingi AS, sehingga Cina merupakan sekutu potensial bagi Iran dimana Iran memanfaatkan hal tersebut untuk membantunya melawan hegemoni AS di kawasan Timur Tengah. Selain itu, Iran mengharapkan Cina mampu melindungi kebijakan nuklirnya dari peningkatan sanksi yang diajukan AS dan sekutunya. Faktor lain yang melatarbelakangi Iran tetap menjalin hubungan baiknya denga Cina, karena kepentingan militer. Bagi Iran, Cina merupakan salah satu sekutu terkuat Iran di Dewan Keamanan PBB, yang menjadi pemasok utama teknologi dan bantuan lainnya untuk Iran. Cina memiliki peran yang signifikan dalam mendukung upaya militerisasi Iran, termasuk penawaran dari senjata, teknologi nuklir dan barang modal. Cina mendukung Iran dengan teknologi militer canggih, termasuk akses rudal balistik dengan kemampuan tinggi.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: 300 Ilmu Sosial
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional
Depositing User: Ratna Sufiatin
Date Deposited: 01 Nov 2011 06:37
Last Modified: 22 Apr 2015 08:47
URI: http://repository.upnyk.ac.id/id/eprint/1440

Actions (login required)

View Item View Item