PENGUNDURAN DIRI ALBERTO GONZALES SEBAGAI JAKSA AGUNG AMERIKA SERIKAT

Fatmatanaly, Arfi (2011) PENGUNDURAN DIRI ALBERTO GONZALES SEBAGAI JAKSA AGUNG AMERIKA SERIKAT. Other thesis, UPN "VETERAN" YOGYAKARTA.

[img]
Preview
PDF
Download (23Kb) | Preview

    Abstract

    Amerika Serikat (AS) merupakan koloni Inggris yang mendapatkan kemerdekaan dari kekuatan imperialisme tahun 1776. AS memiliki spirit konstitusi yaitu kebebasan di dalam negeri dan persamaan (equality) di luar. Hal inilah yang membuat AS dapat berkembang menjadi negara maju. AS pernah mengalami kejadian yang berdampak besar dan menjadi pukulan terberat bagi pemerintah AS dan warganya. Itu terjadi pada tragedi 11 September 2001 silam yang berimplikasi pada perubahan drastis pola kebijakan luar negeri AS, dari yang semula defensif atau banyak menggunakan pola-pola “soft diplomacy” kini berubah menjadi lebih intervensionis terhadap kebijakan negara lain. Setiap kebijakan luar negeri yang dikeluarkan AS selalu memperhitungkan segala keuntungan yang akan didapatkan oleh AS. Kebijakan luar negeri ini sering disebut kebijakan luar negeri bersifat standar ganda. Persepsi seperti ini telah mempengaruhi para pembuat kebijakan AS dalam membuat setiap kebijakan luar negeri. Salah satu contoh kebijakan luar negeri AS yang menjadi sorotan dunia internasional adalah invasi AS ke Irak. Akibat kebijakan itu citra AS terkait Perang Irak benarbenar menjadi sorotan utama di berbagai media. Hal ini yang mengakibatkan dukungan publik terhadap pemerintahan Bush menurun drastis pada tahun 2007 yang hanya tinggal 24 persen. Dalam beberapa sidang kongres AS, isu ini menjadi perdebatan sengit antara kubu Demokrat dan Republik. Berbicara mengenai perdebatan antara kubu Demokrat dan Republik, semuanya tidak terlepas dari kebijakan yang dirancang kabinet Bush atas invasi AS ke Irak. Hancurnya citra AS atas perang Irak menimbulkan tekanan tekanan terhadap pemerintah dari berbagai pihak termasuk partai oposisi yang mengharapkan adanya suatu perubahan dalam kebijakan yang selama ini Bush terapkan terhadap Irak. Tekanan-tekanan yang terjadi membuat kabinet yang diketuai Bush menjadi berantakan karena beberapa orang penting yang duduk dalam kabinet mengundurkan diri, tidak terkecuali Jaksa Agung AS yaitu Alberto Gonzales. Alberto Gonzales dapat dikatakan sebagai salah satu laskar pembela Bush, sehingga pengunduran diri Gonzales yang terkesan mengejutkan dari jabatan Jaksa Agung AS menimbulkan pertanyaan dan memberikan implikasi negatif bagi keseimbangan jalannya pemerintahan Bush. Kasus pengunduran diri Alberto Gonzales ini sangat menarik untuk diulas karena di samping karir politik Gonzales yang terbilang cemerlang, tetapi di sisi lain Gonzales mendapat tekanan dari berbagai pihak yang menuntut agar dia mundur dari jabatannya karena sejumlah kebijakan yang dia buat dinilai kontroversial. Oleh karena itu penulis mencoba mengangkat judul “Pengunduran Alberto Gonzales Sebagai Jaksa Agung Amerika Serikat”. Jaksa Agung Amerika Serikat (AS), Alberto Gonzales mengemukakan pengunduran dirinya. Pengunduran diri itu dilakukan menyusul kecaman-kecaman bahwa ia tidak cakap, berbohong dan memberikan sumpah palsu. Arsitek langkahlangkah hukum dalam "perang melawan teror" itu juga disorot karena memecat delapan jaksa federal. Alberto Gonzales menjadi pusat bidikan Partai Demokrat selain hilangnya keyakinan para petinggi partai Republik terhadap dirinya. Gonzales adalah pembantu terakhir yang meninggalkan Presiden George W Bush, 17 bulan sebelum presiden mengakhiri masa jabatan keduanya. Namun, kubu Demokrat meneruskan serangan dan berikrar untuk mendesak dilakukannya penyelidikan oleh Kongres terhadap Departemen Kehakiman dan Gedung Putih. Di bawah Jaksa Agung Alberto Gonzales Departemen Kehakiman mengalami krisis parah dalam hal kepemimpinan, sehingga sistem hukum menjadi korup oleh pengaruh politik. Jaksa agung pertama dari ras hispanik itu dalam suatu jumpa pers singkat mengumumkan akan mengundurkan diri dari jabatannya mulai 17 September 2007, namun dia tidak menyebut tuduhan bersikap partisan yang menyebabkan dia mundur. Berhentinya Gonzales menyusul guru politik Bush, Karl Rove, yang mengumumkan pengunduran dirinya dari kabinet. Gonzales adalah penasehat Gedung Putih untuk urusan hukum pada masa pemerintahan periode pertama Bush. Dia memainkan peranan penting dalam menyusun usulan hukum yang kontroversial untuk menghadapi teroris pasca serangan 11 September 2001 di New York. Alberto Gonzales terkait kuat dengan program penyadapan telepon yang tidak perlu perintah pengadilan, selain dituduh mengubah definisi kata "penyiksaan" dan menyatakan para tersangka teror yang ditahan di Teluk Guantanamo, Kuba, tidak mempunyai hak-hak sebagaimana diatur dalam Konvensi Jenewa. Gonzales adalah perancang utama dari Patriot Act, yang memberikan kebebasan kepada FBI untuk melakukan hal yang banyak melanggar privasi termasuk penyadapan telepon, profiling, penahanan tanpa bukti. Dia juga membuat memo hukuman mati bagi para tahanan. Kemudian yang paling kontroversial lagi adalah pemberhentian sejumlah jaksa penuntut umum dengan alasan politik pada tanggal 7 Desember 2006, pemecatan itu didorong oleh keinginan agar lebih setia kepada partai Republik atau sebagai pembalasan bagi tindakan atau kelambanan merusak partai Republik. Setidaknya enam dari delapan jaksa penuntut umum telah menerima penilaian kinerja positif di Departemen Kehakiman. Kubu Demokrat menyatakan Gedung Putih dan Departemen Kehakiman terjerumus masalah hukum seperti yang terjadi pada president Richard Nixon. Demokrat juga menuduh Gonzales memecat para jaksa federal berdasarkan alasan politis yang mengakibatkan perselisihan panjang antara Gedung Putih dan Kongres. Alberto Gonzales dipaksa mundur karena tudingan bahwa ia memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan Presiden George W Bush. Berbeda dengan Spitzer dan Yongyuth, Gonzales berbulan-bulan mempertahankan diri. Akhirnya ia tidak berdaya membendung desakan masyarakat, termasuk kongres. Gonzales sebagai sekutu lama dari Texas yang bertanggung jawab atas persetujuannya bagi penyiksaan terhadap para tersangka teroris ketika ia masih duduk di dewan penasehat Gedung Putih tahun 2004. Gonzales juga sedang dirundung skandal lain, yaitu pemecatan terhadap sembilan jaksa, yang kemungkinan besar akan mengakhiri karirnya. Sejumlah kalangan yang mengkritik Gonzales mengatakan, jaksa agung melakukan itu untuk menempatkan orang-orang yang lebih loyal pada Partai Republik. Ketika Presiden sudah tidak bisa lagi menyelamatkan teman-temannya, maka tidak akan ada orang yang tersisa yang bisa menyelamatkannya kecuali dirinya.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: 300 Ilmu Sosial
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional
    Depositing User: Ratna Sufiatin
    Date Deposited: 01 Nov 2011 13:43
    Last Modified: 01 Nov 2011 13:43
    URI: http://repository.upnyk.ac.id/id/eprint/1441

    Actions (login required)

    View Item