UPAYA JEPANG DALAM MENJAGA STABILITAS KEAMANAN KAWASAN ASIA TENGGARA

SAGA, Marsiana Marnitta (2011) UPAYA JEPANG DALAM MENJAGA STABILITAS KEAMANAN KAWASAN ASIA TENGGARA. Other thesis, UPN "VETERAN" YOGYAKARTA.

[img]
Preview
PDF
Download (86Kb) | Preview

    Abstract

    Salah satu kawasan yang mempengaruhi Jepang adalah Asia Tenggara, yang merupakan kawasan negaranegara yang sedang berkembang, sehingga merupakan pasaran potensial bagi Jepang. Beberapa negara di kawasan Asia Tenggara merupakan pemasok bahan mentah untuk kepentingan produksi dan sekaligus menjadi pasaran bagi produk Jepang karena negara-negara tersebut memiliki sumber daya alam yang dibutuhkan oleh Jepang. Kawasan Asia Tenggara memiliki lokasi geografis yang strategis yang merupakan lintas perdagangan Jepang, karena itu Asia Tenggara merupakan kunci lintas perdagangan bagi Jepang. Jepang merupakan negara yang kuat di bidang ekonomi, negara pemasok hasil industri, serta pengimpor terkemuka atas minyak dan gas bumi. Perekonomian Jepang menjangkau seluruh pelosok dunia dan perdagangan internasionalnya merupakan bagian dari upaya pemenuhan kepentingan nasionalnya. Keamanan perekonomian Jepang sangat dipengaruhi oleh keamanan wilayah perdagangan internasionalnya, sehingga Jepang sangat memperhatikan keamanan regional dan global, karena itu Jepang memiliki kepentingan yang kuat atas stabilitas keamanan dunia, dan Asia Tenggara khususnya. Jepang juga memiliki pengaruh dalam upaya mewujudkan keamanan regional dan global, karena itu sikap politik Jepang akan selalu diperhitungkan oleh negara-negara besar dunia, dan merupakan salah satu kekuatan penyeimbang bagi stabilitas keamanan kawasan. Peranan Jepang di kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara, akan menjadi salah satu penentu bagi kestabilan kawasan. Seperti yang kita ketahui, Jepang sangat menggantungkan kelangsungan industrialisasinya dari sumber bahan baku impor, terutama dari kawasan ini, mengakibatkan Jepang sangat berkepentingan dengan kestabilan di kawasan tersebut. Jepang berkeyakinan bila terjadi ketidakstabilan maka mereka khawatir kelangsungan ekspor negara-negara Asia Tenggara terhadap bahan baku industri Jepang akan tersendat dan bahkan akan terhenti karena negara-negara Asia Tenggara akan berkonsentrasi pada masalah-masalah internal mereka akibat ketidakstabilan itu, misalnya pemberontakan daerah terhadap pusat, sengketa antar etnis dan antar agama, semuanya sangat merugikan seluruh kondisi bangsa dan berpengaruh buruk terhadap keamanan Asia Tenggara secara keseluruhan. Terorisme internasional pun turut mengancam keamanan setiap negara Asia Tenggara. Pada waktu ini keamanan Asia Tenggara terutama diganggu dan dirugikan oleh keamanan dalam negeri ini. Masalah keamanan pada jalur selat Malaka dari para perompak dan pembajak di laut merupakan masalah yang sangat mengkhawatirkan bagi Jepang, karena selat Malaka mnerupakan kunci lintas laut bagi perdagangan Jepang, sehingga jika terjadi instabilitas di kawasan ini maka kelangsungan ekonomi Jepang pun akan terganggu. Dari hitungan ekonomi pun Jepang akan sangat dirugikan bila bahan baku tidak dapat didatangkan dari kawasan Asia Tenggara. Mendatangkan bahan baku dari kawasan/negara lain akan semakin meningkatkan biaya produksi terutama untuk biaya transportasi dan juga harga beli yang relatif lebih mahal dibandingkan jika didatangkan dari kawasan Asia Tenggara. Untuk mengamankan posisi ekonomi yang demikian, Jepang harus mengadakan hubungan baik dengan negara-negara di sepanjang garis suplai yang menjadi pemasok akan kebutuhan Jepang atas sumber bahan mentah dan energi di negara-negara Asia Tenggara. Suatu ketegangan regional di kawasan Asia Tenggara dapat memberikan implikasi buruk bagi Jepang. Demikian juga jika terjadi instabilasi kawasan, maka laju pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Jepang dapat terganggu, karena adanya arus bahan mentah dari Asia Tenggara maupun pasaran produksi Jepang ke kawasan ini. Jadi dapat dikatakan bahwa secara eksternal keamanan ekonomi Jepang dipengaruhi oleh stabilitas politik dan ekonomi di kawasan ini. Jepang yang damai kini mendasarkan manuver politik luar negerinya dalam tiga prinsip. Sebagai tanda bangkitnya rakyat Jepang dari trauma perang, menandakan kembalinya Jepang ke dunia internasional lewat diplomasi di PBB. Dasar diplomasi ini, pertama berupa solidaritas internasional Jepang lewat organisasi tersebut. Kedua, Jepang hadir berdasarkan perjanjian damai dan keamanan dengan Amerika Serikat. Meski dua dasar politik pertama berbeda dari era PD II, Jepang tetap mendasari kepentingan politik luar negeri yang terakhir dengan fokus pada regional Asia. Lebih dari separuh dana bantuan luar negeri Jepang disalurkan untuk kawasan Asia. Kepentingan Jepang terhadap Asia Tenggara lebih mengacu kepada mensukeskan kawasan Asia Tenggara. Jepang telah resmi mengumumkan kebijakan luar negeri Asian Gateway. Konsep ini berdasar pada tiga hal, yaitu pembentukan Jepang sebagai negara terbuka, kerjasama dengan Asia yang terbuka, serta menghormati keragaman Asia. Dasar fundamental kebijakan luar negeri Jepang memfokuskan kepentingan luar negeri Jepang pada perwujudan kebebasan dan kemakmuran negara di Kawasan Jangkar Asia. Kawasan Jangkar Asia maksudnya adalah deretan kawasan regional Asia Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Negara-negara ini secara geografis berjejer menyerupai bentuk jangkar bagi Jepang, dengan adanya fokus tersebut, diharapkan bantuan yang diberikan Jepang bagi kawasan Jangkar ini dapat berbalik mendorong kemakmuran Jepang. Pemerintah jepang melihat hubungannya dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara sangat penting untuk keamanan ekonominya. Kepentingan ekonomi jepang yang banyak bersumber pada kondisi geografis negaranegara kawasan Asia Tenggara, membutuhkan timbal balik yang harus dilakukan jepang. Meskipun secara etis timbal balik semacam ini berlaku dan nampak menguntungkan serta mempercepat transformasi kebanyakan negara-negara anggota kawasan yang menuju industrialisasi. Timbal balik dalam realisasinya berupa pinjaman maupun hibah dalam bentuk finansial membawa pula efek ketergantungan negara-negara penerima bantuan terhadap Jepang, sebagaimana ketergantungan sumber daya alam dan jalur laut yang dimiliki negara-negara kawasan Asia Tenggara. Kawasan Asia Tenggara selama ini telah dipersiapkan Jepang sebagai kawasan tujuan ekspor, tujuan investasi, dan sumber bahan baku bagi industri Jepang. Semua aspek-aspek tersebut, mendasari Jepang untuk lebih meningkatkan peran ekonominya dalam perdagangan, bantuan pembangunan pemerintah (Official Development Assistance /ODA), dan sumber investasi langsung (Foreign Direct Investment /FDI). Ketiga elemen diatas, telah membawa Jepang menjadi salah satu mitra dagang utama bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Tidak bisa dipungkiri kawasan Asia Tenggara sangatlah berperan penting tidak hanya bagi keamanan ekonomi Jepang, namun juga bagi keamanan politiknya, karena dilihat dari kawasan Asia Tenggara itu sendiri yang saling berdekatan antara Asia Tenggara dan Jepang yang cukup strategis bagi negara-negara yang berhubungan dengan kawasan Asia Tenggara. Arti strategis ini menyangkut banyak aspek, baik ekonomi maupun keamanan politiknya. Sehingga memungkinkan tingkat keterpengaruhan yang mengikat kepentingan kedua belah pihak dalam usaha meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Jepang adalah salah satu negara yang berkepentingan dengan jalur laut di kawasan Asia Tenggara. Sebenarnya kepentingan utama Jepang di Asia Tenggara didasarkan pada sejumlah 70 persen impor minyak mentah dan 20 persen impor bijih besi yang harus melewati selat malaka. Secara umum, hampir 85 persen ekspor-impor Jepang diangkut melalui jalur laut, karena itu keamanan jalur laut terutama di daerah potensial bagi Jepang yaitu Teluk Parsi, Asia Tenggara dan Pasifik Barat, sangat penting dan strategis bagi Jepang. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara kini sudah semakin menunjukan kapasitas kerjasamanya dalam menghadapi tantangan di area yang semakin luas. Jepang ingin ikut membantu kerjasama baik bilateral maupun multilateral. Kawasan Asia Pasifik kini tidak saja menghadapi tentangan keamanan dalam bentuk tradisional saja seperti keamanan di selat malaka, tetapi juga non tradisional seperti terorisme, pembajakan dan juga bencana alam. Dalam bidang keamanan, Jepang mulai mencoba mengambil peranan dalam mencegah ancaman keamanan di Asia Timur meskipun Jepang sedang tidak dalam keadaan terancam. Salah satu bentuknya adalah keinginan Jepang untuk ikut serta dalam menjaga stabilitas keamanan di Selat Malaka. Bagi Jepang, Selat Malaka merupakan jalur perairan internasional merupakan wilayah yang sangat penting. Selat tersebut merupakan jalur utama bagi kapal kontainer dan kapal tangki yang akan berangkat dari Jepang maupun ke Jepang. Dua hal utama yang menjadi perhatian Jepang adalah stabilitas politik negara-negara di sekitar selat, serta kejahatan laut berupa pembajakan. Untuk alasan-alasan tersebut, Jepang telah memerintahkan angkatan pertahanan mereka (Self Defense Force – SDF) untuk turut serta berpartisipasi memerangi kejahatan terutama di kawasan Selat Malaka. Tindakan Jepang tersebut paling tidak menunjukkan bahwa Jepang mulai memainkan peran yang strategis sesuai dengan statusnya sebagai negara yang mempunyai kekuatan ekonomi besar, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Jepang sangat membutuhkan Selat Malaka sebagai jalur laut pengiriman produk-produk Jepang ke wilayah Eropa, Timur Tengah dan Afrika. Selat Malaka merupakan kunci dari lintas perdagangan Jepang, hal ini menjadikan Jepang merupakan salah satu negara di luar Asia Tenggara yang secara aktif berusaha membantu menyelesaikan permasalahan pembajakan di laut. Topografi Selat Malaka yang kurang memadai menjadikannya beresiko terhadap kecelakaan kapal pengangkut minyak dan komoditas lainnya seperti kapal karam dan resiko digunakan sebagai sasaran terorisme yang mengerikan. Hal ini yang menjadi perhatian geopolitik utama di Asia Tenggara sehingga menarik seluruh aktor baik regional, dan internasional, khususnya Jepang untuk terlibat langsung dalam pengawasan jalur tersebut. Munculnya perompak-perompak dinilai sangat mengganggu kelancaran jalur perdagangan di Selat Malaka. Untuk itu bantuan untuk pengamanan di selat Malaka yang diberikan Jepang adalah dimana Jepang yang sampai sekarang secara konsisten membiayai Dewan Selat Malaka (The Malacca Straits Council), yang kemudian Dewan tersebut membentuk The Straits of Singapore and Malacca Revolving Fund, bagi ketiga negara selat (Indonesia, Malaysia dan Singapura) yang akan dikelola secara bergilir. Paradigma yang terjadi antara Jepang dan kawasan Asia Tenggara telah berlangsung sejak lama, dimulai sejak Perang Dunia II, Perang Dingin, hingga isu HAM. Dimana dalam proses proses perjalanannya ada tarik ulur antara Jepang dan Asia Tenggara, di satu sisi Jepang sebagai pihak yang membutuhkan, dan di sisi lainnya Jepang memainkan peran dalam proses kemajuan di kawasan Asia Tenggara, sehingga Jepang beranggapan bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan kawasan yang sangat penting dan potensial bagi perkembangan Jepang sebagai negara yang berdaulat dan berdemokrasi. Masih banyaknya kasus-kasus terorisme, transnasional, dan instabilitas keamanan dalam negeri negara-negara kawasan Asia Tenggara, ini menyatakan bahwa usaha Jepang di dalam menjaga stabilitas keamanan kawasan Asia Tenggara belum sepenuhnya dinyatakan berhasil, untuk itu Jepang terus berusaha untuk mendekatkan diri kepada negara-negara di kawasan Asia Tenggara dalam usaha bersama menjaga stabilitas keamanan di kawasan Asia Tenggara.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: 300 Ilmu Sosial
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional
    Depositing User: Ratna Sufiatin
    Date Deposited: 04 Nov 2011 09:36
    Last Modified: 04 Nov 2011 09:36
    URI: http://repository.upnyk.ac.id/id/eprint/1491

    Actions (login required)

    View Item