“KETERLIBATAN JERMAN DALAM MISI REKONSTRUKSI DAN KEAMANAN PASCA INVASI AMERIKA SERIKAT DI AFGANISTAN”

MARIANUS M. BRIAN, ALAMAN (2011) “KETERLIBATAN JERMAN DALAM MISI REKONSTRUKSI DAN KEAMANAN PASCA INVASI AMERIKA SERIKAT DI AFGANISTAN”. Other thesis, UPN "Veteran" Yogyakarta.

[img]
Preview
PDF
Download (104Kb) | Preview

    Abstract

    Sejak jatuhnya rezim Taliban di Afganistan, pembicaraan mengenai situasi keamanan di Afganistan mencuat ke permukaan. Aktor-aktor internasional terutama negara-negara barat (major political players) yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation) adalah pihak yang gencar mensponsori pembicaraan itu. Melebihi negara barat yang lain-lain, Jerman menunjukkan diri sebagai negara yang paling serius untuk terlibat dalam upaya rekonstruksi dan penjagaan keamanan domestik Afganistan. Negara terakhir bahkan, menyatakan komitmennya untuk terlibat dalam yang misi rekonstruksi dan peningkatan keamanan disponsori PBB dan NATO. Terhitung hingga saat ini, Jerman sudah terlibat di Jerman selama kurang lebih 10 tahun. Di lain pihak, profil politik luar negeri Jerman kontemporer juga menimbulkan daya tarik yang tidak kalah besarnya. Ini terkait dengan adanya suatu pergeseran besar dalam kebijakan luar negeri Jerman, suatu gerak yang menjauh dari profil politik luar negeri Jerman masa lalu yang dibayang-bayangi Holocaust. Dalam satu dasawarsa terakhir, Jerman tampak menunjukkan political will untuk tidak mengulangi kembali kebijakan serupa di masa lalu, sambil pada saat yang sama bersedia membuka diri dan terlibat aktif dalam berbagai organisasi/komunitas internasional, misi perdamaian, kerjasama dan perundingan2 perundingan internasional yang mendukung tercapainya berbagai penyelesaian masalah internasional. Di kalangan diplomatnya, aksioma never again dan never alone hidup dan berpengaruh begitu hebatnya. Semuanya itu nampak berjalan sempurna dalam politik luar negeri Jerman terhadap kawasan seperti Asia Tengah, terutama terhadap Afganistan. Jerman memposisikan negara yang disebut terakhir sebagai negara sasaran utama kebijakan politik luar negerinya terkait dukungannya terhadap perang global melawan terorisme. Awal komitmen bantuan Jerman di Afganistan didasarkan atas dasar pertimbangan moral terhadap negara yang usai dilanda konflik berkepanjangan tersebut. Ketika Amerika dan Masyarakat Internasional mencetuskan perang melawan terorisme global atas peristiwa 11 September 2001, Jerman terlibat di dalam keanggotaan PBB untuk menstabilitaskan keamanan di Afganistan dengan cara memberi bantuan finansial dan penempatan keamanan armada angkatan bersenjata Jerman (Bundeswehr). Pengaruh kondisi keamanan yakni ancaman terorisme global yang marak terjadi di Jerman, nampaknya Jerman menjalankan political will yang berbeda dari sebelumnya dalam keterlibatan Jerman di Afganistan. Jerman kemudian memfokuskan keterlibatan rekonstruksi dan peningkatan keamanannya di Afganistan didasarkan pada beberapa alasan yakni kepentingan keamanan, penguatan citra internasional Jerman dan kepentingan ekonomi Jerman. Kepentingan keamanan Jerman terhadap kawasan Afganistan juga tidak lepas dari kepentingan keamanan nasional Jerman yang terjadi di domestik 3 Jerman sendiri. Masalah ancaman terorisme di domestik Jerman juga bukanlah hal yang baru karena Jerman sangat berwaspada terhadap kiblat beberapa aktivitas kelompok - kelompok radikal Islam yang diduga mempunyai hubungan yang cukup kuat dengan jaringan terorisme yang ada di Afganistan. Kelompok tersebut antara lain kelompok garis keras yang diduga terkait yakni kelompok Al-Qaida, Mujahidin dan Jihad Islam Terkait dengan konektivitas jaringan terorisme global di Afganistan yang terhubung dengan beberapa organisasi radikal Islam adalah ancaman bagi stabilitas keamanan Jerman. Oleh sebab itu, keterlibatan Jerman di Afganistan adalah untuk memutuskan jaringan global mereka di Afganistan yakni terkait beberapa kelompok yang mengirimkan anggotanya untuk pelatihan militer di di pegunungan Afganistan. Dalam bantuan keamanan, Jerman telah mengirimkan ribuan pasukan keamanannya dengan membawa mandat PBB yakni melalui kontigen ISAF yakni dengan membangun pos-pos polisi di daerah yang rawan konflik. Jerman juga telah memberikan pelatihan khusus kepada polisi Afganistan dalam upaya untuk meningkatkan keamanan. Dalam bidang ekonomi, Jerman dan Afganistan telah menjalin ikatan kerjasama kedua negara, di mana banyak perusahaan Jerman yang sudah memulai untuk melakukan investasi di sektor perindustrian Afganistan. Kondisi yang telah relatif aman dari yang sebelumnya memberi ketertarikan pada investor-investor Jerman untuk menanamkan modal dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Afganistan. 4 Dalam bantuan sarana infrastruktur tersebut, Jerman mempromosikan produk-produk Jerman dari berbagai perusahaan dan stake-stake holder yang terlibat. Sebagai contoh dalam pembangunan sarana infrastruksi Jerman membawa para arsitek, tenaga-tenaga ahli bangunan dengan mesin-mesin pembangunan, bahan-bahan dasar pembangunan (besi beton, kawat, semen, kaca, alat-alat berat, keramik, cat, dll). Dalam upaya membawa slogan “Made in Germany” dengan teknologi dan kualitas yang tinggi tentunya akan memberi kepercayaan dan akan promosi produk-produk dalam bentuk bantuan rekonstruksi Jerman. Di sisi lain hubungan perdagangan juga bisa ditingkatkan karena Jerman adalah negara yang bergantung pada hasil ekspornya ke Afganistan. Kepentingan Jerman yang tidak kalah penting adalah penguatan citra Jerman di mata global. Komitmen Jerman terhadap Afganistan telah banyak dibuktikan dengan bantuan finansial maupun bantuan keamanan kepolisian Jerman. Banyak hal yang menunjukkan perubahan di Afganistan yakni nilai-nilai demokrasi Jerman yang tampak dalam perpolitikan pemerintahan seperti contoh keberhasilan 2 pemilu tahun 2004 dan 2008. Penguatan citra internasional Jerman bisa tercapai jikalau keterlibatannya dalam bentuk bantuan finalsial, penempatan pasukan keamanan, perbaikkan hukum & ekonomi, rekonstruksi sipil maupun pembangunan dapat memberikan efek ke dalam aspek-aspek kehidupan masyarakat Afganistan. Dengan kata lain bahwa Jerman menawarkan pengalaman demokrasinya untuk meminta secara tidak langsung pengakuan citra Jerman di mata dunia internasional. Hal inilah yang menjelaskan mengapa Jerman terlibat dan berkomitmen dengan 5 mengeluarkan anggaran negara yang tidak sedikit. Dunia internasional telah melihat bagaimana peran Jerman dapat mentrasformasikan pengalaman demokrasi sejarah penyatuan Jerman. Demokrasi yang ditawarkan Jerman telah berjalan dengan baik di Afganistan walaupun ancaman terorisme tetap ada namun setidaknya dunia internasional telah menyaksikan keterlibatan Jerman atas nama demokrasi sejarah unifikasinya. Setidaknya Jerman telah mendapatkan pengakuan dunia bahwa Jerman yang sekarang memiliki citra demokrasi global yang luar biasa dari sejarah kelam Jerman.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: 300 Ilmu Sosial
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional
    Depositing User: Eny Suparny
    Date Deposited: 22 Nov 2011 09:33
    Last Modified: 22 Nov 2011 09:33
    URI: http://repository.upnyk.ac.id/id/eprint/1624

    Actions (login required)

    View Item