Identitas Etnik dalam Komunikasi Politik

Ilyas, Ilyas (2010) Identitas Etnik dalam Komunikasi Politik. Jurnal Ilmu Komunikasi Terakreditasi, 8 (3). pp. 299-313. ISSN 1693-3029

[img]
Preview
PDF (Jurnal Ilmu Komunikasi Terakreditasi) - Published Version
Download (2354Kb) | Preview

    Abstract

    Abstract In the political context, especially in House of representative (DPRD), ethnic group’s identification becomes fundamental in terms of attitudes and political communication. Ethnic group’s identity becomes a major problemwhen dealing with political communication especially in democratic system. It’s functions as distinguishing feature or co-identification to other parties that use to achieve political supports. This research used qualitative method using dramaturgies approach and situational ethnicity. Data collection is done through in depth interview, observation, and documentation study.The result of the research showed that artificial attributes of political communication such as dressing, life-style and vehicles is considered as impression management in the political arena. Whereas the symbols of ethnic group identity that is found in political communication, are clan as identity, local language, accent and customs. Those various symbols again raise stigmatization “new-comers” and “local people” as form of distinguishing feature and co-identification of ethnic group’s identity in the political communication. The term new-comer is given to those who have no genealogical bound, marriage, place of birth or relationship with elites from Kaili ethnicity. In the process, the new-comers try to construct new identity called “Orang Palu” that is considered to be neutral and is capable of protecting all ethnicities that live and have connection with Palu. Abstrak Identifikasi identitas etnik yang lazim dilakukan pada masyarakat multietnik senantiasa diarahkan pada situasi dan konteks dimana seseorang berada. Dalam konteks politik, terutama pada lembaga seperti Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), identifikasi identitas etnik menjadi hal penting dalam aktifitas politik. Identitas etnik adalah sesuatu yang problematik ketika dihadapkan dengan komunikasi politik, terutama dalam sistem pemilu yang demokratis.Hal tersebut bisamenjadi pembeda atau ko-identifikasi bagi pihak-pihak yang menggunakannya untuk tujuan meraih dukungan politik. Metode penelitian yang digunakan adalahmetode kualitatif dengan pendekatan dramaturgidan etnik situasional. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data wawancara mendalam, pengamatan dan studi dokumentasi.Hasil penelitian mengungkapkan bahwa atribut arti fisial komunikasi politik anggota DPRD Palu seperti pakaian yang digunakan, gaya hidup, kendaraan yang dimiliki dan gaya berkomunikasi merupakan bentuk pengelolaan kesan (impression management) dalam panggung politik. Sementara simbol-simbol identitas etnik yang ditemukan dalam komunikasi politik adalah, klan sebagai identitas, bahasa daerah, logat dan adat istiadat.Beragam simbol tersebut kemudian melahirkan stigma pendatang dan asli sebagai bentuk pembeda danko-identifikasi identitas etnik. Istilah pendatang disematkan pada orang yang tidak memiliki ikatan genealogis, perkawinan, tempat lahir dan hubungan erat dengan tokoh beretnis Kaili. Etnik pendatang lalu mengkonstruksi identitas baru yang mereka sebut sebagai “orang Palu”. Penggunaan beragam identitas tersebut juga dilakukan sesuai konteks dan waktu yang dianggap dapat memberikan keuntungan politik, penerimaan sosial dan budaya. KataKunci : identitas etnik, pengelolaan kesan dan etnik situasional

    Item Type: Article
    Subjects: 300 Ilmu Sosial
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Komunikasi
    Depositing User: lestari puji
    Date Deposited: 22 Mar 2012 10:15
    Last Modified: 22 Mar 2012 10:15
    URI: http://repository.upnyk.ac.id/id/eprint/2150

    Actions (login required)

    View Item