GEOLOGI DAN HUBUNGAN KANDUNGAN UNSUR Ni DENGAN TINGKAT SERPENTINISASI DAERAH GUNUNG BATU DAN SEKITARNYA DESA LAMERURU, KECAMATAN LANGGIKIMA, KAB. KONAWE UTARA, SULAWESI TENGGARA

RIAL DWI , MARTASARI (2012) GEOLOGI DAN HUBUNGAN KANDUNGAN UNSUR Ni DENGAN TINGKAT SERPENTINISASI DAERAH GUNUNG BATU DAN SEKITARNYA DESA LAMERURU, KECAMATAN LANGGIKIMA, KAB. KONAWE UTARA, SULAWESI TENGGARA. Other thesis, UPN "Veteran" Yogyakarta.

[img] PDF
Download (31Kb)

    Abstract

    Secara administratif daerah telitian terletak pada wilayah Desa Tambakua dan Lameruru, Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Dengan koordinat 122o 15’02”BT - 122 o 17’42,46”BT dan 03 o 16’25”LS - 03 o 17’25”LS Geomorfologi daerah telitian terdiri dari dua satuan bentukasal, yaitu Bentukasal Denudasional dan Bentukasal Marine. Bentukasal Denudasional dapat dibagi menjadi 2 satuan geomorfik, yaitu Bentuklahan perbukitan terdenudasi berelief curam (S1) menempati 55% dari daerah keseluruhan, Bentuklahan perbukitan terdenudasi berelief miring-agak curam (S2) menempati 40% dari daerah keseluruhan. Bentukasal Marine terdiri dari 1 satuan geomorfik, yatu Bentuklahan pantai (M1) menempati 5% dari daerah keseluruhan. Dari hasil analisa dapat ditentukan pola pengaliran dasar yang berkembang pada daerah telitian adalah Rectangular dengan stadia pengerosian muda. Pada daerah penelitian berdasarkan kenampakan ciri lithologi dan karakteristik tertentu terdiri dari 4 satuan batuan dan 3 Formasi. Secara berurutan stratigrafi daerah telitian dari tua ke muda yaitu satuan batuan Peridotit Ofiolit yang tersusun atas Lherzolite, Harzburgite, Olivin Websterite, Dunit dan Serpentinit (70%), satuan batuan Sekis yang tersusun atas Schist dan Kuarsit (4%), satuan batuan konglomerat Pandua yang tersusun atas jenis konglomerat polimik dengan sisipan batupasir dan batulempung (21%) dan satuan endapan aluvial pantai yang tersusun atas material-material lepas berukuran lempung hingga bongkah (5%). Struktur geologi daerah telitian terletak pada zona struktur geologi yang kompleks. Struktur inilah yang menjadi salah satu faktor terjadinya proses lateritisasi yang menghasilkan bijih Nikel. Struktur geologi yang dapat diamati yaitu sesar dan kekar. Pada kekar 1 didapatkan arah umum Shear 1 N 138⁰ E/ 43⁰ dan Shear 2 N 262⁰ E/ 72⁰. Dan pada kekar 2 didapatkan arah umum Shear 1 N 342⁰ E/ 44⁰ dan Shear 2 N 156⁰ E/ 54⁰. Setelah dilakukan analisa didapatkan nama sesar tersebut adalah Normal Left Slip Fault, Left Reverse Slip Fault dan Lag Left Slip Fault. Pada Pit B1 Lameruru tingkat serpentinisasi dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu tingkat Tidak terserpentinisasi, tingkat Serpentinisasi Sedang dan tingkat Serpentinisasi Tinggi. Hubungan dari tingkat serpentinisasi pada batuan dasar dengan kadar Ni adalah saling bertolak belakang. Pada Serpentinisasi Tinggi kadar Ni akan rendah sedangkan pada Tidak terserpentinisasi kadar Ni akan lebih tinggi. Memiliki hubungan tingkat pelapukan yang bertolak belakang juga terhadap tingkat serpentinisasi dengan melihat kadar Ni. Pada keadaan high serpentninisasi maka kadar Ni akan rendah, sedangkan pada high weathering kadar Ni akan tinggi.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: 500 Sains dan Matematika
    Divisions: Fakultas Teknologi Mineral > Teknik Geologi
    Depositing User: Eny Suparny
    Date Deposited: 02 May 2013 11:16
    Last Modified: 02 May 2013 11:16
    URI: http://repository.upnyk.ac.id/id/eprint/5980

    Actions (login required)

    View Item