KENDALA-KENDALA TERHADAP IMPLEMENTASI SIX POINT CEASEFIRE AGREEMENT ANTARA GEORGIA DAN RUSIA PASCA PERANG OSSETIA SELATAN TAHUN 2008

SIKSTUS , KARVIN (2013) KENDALA-KENDALA TERHADAP IMPLEMENTASI SIX POINT CEASEFIRE AGREEMENT ANTARA GEORGIA DAN RUSIA PASCA PERANG OSSETIA SELATAN TAHUN 2008. Other thesis, UPN "Veteran" Yogyakarta.

[img] PDF
Download (64Kb)

    Abstract

    Six point ceasefire agreement merupakan sebuah dokumen perjanjian damai yang memuat enam poin pokok gencatan senjata yang dihasilkan dari dialog diplomatik antara Uni Eropa sebagai mediator dengan Rusia dan Georgia sebagai pihak bertikai dalam Perang Ossetia Selatan 2008. Georgia dan Rusia telah menyepakati poin-poin yang terkandung dalam perjanjian tersebut, namun terdapat banyak kendala yang dihadapi dalam proses implementasi lebih lanjut. Kendala-kendala terhadap implementasi six point ceasefire agreement dikategorikan dalam dua bagian, yakni kendala implementasi karena faktor internal dan faktor eksternal. Kendala karena faktor internal merujuk pada kesulitan yang timbul dari lingkungan implementasi perjanjian damai itu sendiri, yang menyoroti kompleksnya pandangan Rusia dan Georgia dalam menyikapi status politik Ossetia Selatan dan Abkhazia berdasarkan dinamika aspek sejarah. Dalam kendala internal ini, status politik Ossetia Selatan dan Abkhazia menjadi sorotan sekaligus pangkal masalah, karena baik Georgia maupun Rusia telah mengklaim status politik kedua wilayah itu dalam kerangka hukumnya masingmasing. Selain itu, upaya aksesi Georgia ke NATO merupakan ancaman besar bagi posisi Rusia di Kaukasus, sehingga pasca konflik 2008, Rusia resmi mengakui kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia. Adapun kendala karena faktor eksternal merujuk pada persaingan strategis antara NATO-AS dan Rusia di ruang teritorial pasca-Soviet. Rusia menyadari dampak persaingan besar di ruang teritorial pasca-Soviet jika NATO mengabulkan aksesi Georgia dalam keanggotaan Aliansi. Amerika Serikat berdasarkan agenda politik luar negerinya serta posisi internalnya dalam NATO, terus mendukung upaya aksesi Georgia, memperkuat kerja sama keamanan dengan negara-negara Eropa Tengah serta rutin mengkampanyekan nilai-nilai demokrasi di belahan Eropa Timur. Rusia memandang pergerakan NATO-AS sebagai kolaborasi berbahaya yang akan mengancam eksistensinya di ruang teritorial pasca-Soviet. Dengan demikian, kendala-kendala terhadap implementasi six point ceasefire agreement antara Georgia dan Rusia pasca konflik 2008 timbul dari perpaduan konflik atas status politik Ossetia Selatan dan Abkhazia yang belum usai serta persaingan atas ruang geopolitik pasca-Soviet antara NATO-AS dan Rusia.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: 300 Ilmu Sosial
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional
    Depositing User: Eny Suparny
    Date Deposited: 28 Jun 2013 09:51
    Last Modified: 28 Jun 2013 09:51
    URI: http://repository.upnyk.ac.id/id/eprint/6286

    Actions (login required)

    View Item