GEOLOGI DAN KAJIAN KESTABILAN LERENG DENGAN KONTROL MUKA AIR TANAH PADA LERENG HIGH WALL PIT BATULAKI UTARA, KECAMATAN SATUI, KABUPATEN TANAH BUMBU, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN. STUDI KASUS UPAYA STABILISASI LERENG DENGAN PELANDAIAN LERENG DAN DEWATERING

FAIZAL AGUNG , RIYADI (2013) GEOLOGI DAN KAJIAN KESTABILAN LERENG DENGAN KONTROL MUKA AIR TANAH PADA LERENG HIGH WALL PIT BATULAKI UTARA, KECAMATAN SATUI, KABUPATEN TANAH BUMBU, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN. STUDI KASUS UPAYA STABILISASI LERENG DENGAN PELANDAIAN LERENG DAN DEWATERING. Other thesis, UPN "Veteran" Yogyakarta.

[img] PDF
Download (218Kb)

    Abstract

    Daerah penelitian terletak di daerah pertambangan milik PT. Borneo Indobara, pada Area Pit Batulaki Utara. dan secara administratif termasuk kedalam wilayah terletak di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Secara geografis daerah penelitian terletak pada koordinat UTM (Universal Tranverse Mercator) 331679.2169 m E – 332722.0298 m E dan 9592895.9009 m S – 9593886.6123 m S, atau 115° 29' 3.8849" E – 115° 29' 37.7339" E dan 3° 40' 54.6745" S – 3° 40' 22.4767" S. Daerah penelitian merupakan daerah tambang batubara yang terdapat pada Sub-cekungan Asam-Asam, bagian dari Cekungan Barito yang terletak di sebelah tenggara rangkaian Pegunungan Meratus. Daerah penelitian termasuk kedalam Formasi Warukin dengan arah umum pelapisan batuan N332 0 E / 22 0, . Daerah penelitian dibagi kedalam dua satuan batuan yaitu satuan batulempung Warukin dan selaras di atas satuan tersebut terdapat satuan batupasir Warukin. Formasi Warukin diendapkan di dalam lingkungan lower delta plain, sub-lingkungan tidal distributary chanel pada Kala Miosen Tengah - Miosen Akhir. Struktur geologi yang dijumpai berupa sesar dan kekar. Sesar yang dijumpai berupa sesar mendatar naik dengan arah umum kedudukan bidang sesar sekitar N140 0 E / 82 0 , besar rake sebesar 14 . Berdasarkan analisis kedudukan kekar diperoleh arah tegasan utama yang bekerja pada daerah penelitian adalah N93 E. Suatu tubuh lereng tambang memiliki komponen-komponen gaya yang bekerja di dalamnya. Kestabilan suatu lereng ditentukan oleh resultan gaya yang bekerja pada tubuh lereng tersebut. Aktifitas dalam pertambangan dapat menyebabkan terganggunya stabilitas lereng, baik karena berkurangnya kekuatan lereng maupun akibat adanya penambahan beban pada tubuh lereng tersebut. Untuk menjaga stabilitas lereng, diperlukan upaya stabilisasi lereng untuk meningkatkan faktor kestabilan lereng. Stabilisasi yang dapat dilakukan umumnya adalah dengan melandaikan lereng untuk mengurangi beban di tubuh lereng. Pilihan lain yang dapat dilakukan adalah dengan cara menurunkan muka air tanah pada tubuh lereng. Cara yang mungkin dilakukan adalah dewatering dengan pemboran horizontal untuk mengeluarkan air dari dalam tubuh lereng dengan memanfaatkan kecenderungan aliran fluida. Untuk menentukan upaya stabilisasi mana yang lebih efektif dan efisien, diperlukan kajian terhadap kedua upaya tersebut. Kajian yang dilakukan adalah dengan analisis dan pemodelan terhadap kestabilan lereng yang bersangkutan, dengan memasukkan parameter muka air tanah sebagai pembanding pada setiap geomoteri lereng tertentu. Dengan demikian, keuntungan yang didapat adalah pemahaman mengenai hubungan parameter muka air tanah dengan kestabilan lereng pada geometri tertentu. Besarnya upaya stabilisasi untuk setiap tindakan dapat diketahui dengan melakukan perhitungan terhadap upaya untuk melandaikan lereng dan upaya untuk dewatering. Untuk mengetahui upaya mana yang lebih efektif dan efisien, kedua upaya tersebut di atas dibandingkan dari aspek operasional, biaya, resiko, dan tingkat keberhasilannya. Berdasarkan hasil analisis dan pemodelan kestabilan lereng, diketahui bahwa apabila ditentukan kedalaman pit (ketinggian lereng) yang di inginkan sebesar 100 meter maka untuk memperoleh nilai FK sebesar 1.26 pada sudut lereng keseluruhan sebesar 20 0 maka diperlukan penurunan air tanah sebesar 5 meter, atau pada sudut lereng keseluruhan sebesar 18.5 0 tanpa harus menurunkan muka air tanah. Berdasarkan perhitungan, pemodelan dan pertimbangan yang telah dibuat terhadap masing-masing upaya stabilisasi, disimpulkan bahwa upaya stabilisasi lereng dengan cara melandaikan lereng dinilai lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan upaya untuk menurunkan muka air tanah dengan horizontal drilling dari aspek operasional, biaya, resiko, dan tingkat keberhasilannya. Kata kunci : Formasi Warukin, lereng, kestabilan, upaya, stabilisasi, pelandaian, dewatering, horizontal drilling, pemodelan 0 0 E -N273 0

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: 500 Sains dan Matematika
    Divisions: Fakultas Teknologi Mineral > Teknik Geologi
    Depositing User: Eny Suparny
    Date Deposited: 06 Jan 2014 13:31
    Last Modified: 06 Jan 2014 13:31
    URI: http://repository.upnyk.ac.id/id/eprint/7909

    Actions (login required)

    View Item