PERANAN PEREMPUAN RWANDA DALAM PROSES PERDAMAIAN PASCA GENOSIDA 1994

Nuzulul, Eky Nanda (2011) PERANAN PEREMPUAN RWANDA DALAM PROSES PERDAMAIAN PASCA GENOSIDA 1994. Other thesis, UPN "Veteran" Yogyakarta.

[img]
Preview
PDF
Download (2943Kb) | Preview

    Abstract

    Peristiwa tragis penembakan Presiden Habyarimana kontan mengakhiri masa 20 tahun pemerintahannya. Lebih mengerikan lagi, peristiwa ini memicu pembantaian etnis besar-besaran di Rwanda. Tanpa menunggu hitungan hari apalagi minggu, hanya dalam hitungan jam setelah Habyarimana terbunuh, seluruh tempat di Rwanda langsung diblokade. Pasukan khusus Garda Presiden dengan bantuan instruktur Perancis segera beraksi. Peristiwa genosida 1994 yang terjadi di Rwanda berlangsung selama 100 hari sejak terbunuhnya Habyarimana yaitu pada 6 April 1994 sampai dengan pertengahan Juli 1994. Peritiwa ini memberikan dampak yang luar biasa mengerikan terhadap para perempuan di Rwanda. Terdapak pihak-pihak yang terkait dengan peritiwa ini diantaranya Interahamwe, Impuzamugambi, suku Hutu, suku Tutsi, pasukan perdamaian PBB, Front Patriotik Rwanda dan lain sebagainya. Pihakpihak diatas merupakan tokoh utama dalam peristiwa Genosida 1994. Peran perempuan dalam peristiwa Genosida, bukan hanya sebagai korban, namun juga sebagai salah satu aktor utama pelaku pembantaian. Mereka bekerja sama dengan para pemberontak dan ikut dalam beberapa kegiatan penyiksaan. 92 Dalam peranannya sebagai agen peacebuilding pasca Genosida 1994, perempuan berperan besar dalam beberapa bidang utama. Diantaranya dalam bidang Politik, Sosial dan Ekonomi. Usaha mereka dalam merekonstruksi negaranya didukung penuh oleh pemerintahan Presidaen Paul Kagame, yang merupakan ketua RPF. yaitu kelompok yang mempertahankan Rwanda dari serangan massacred ekstrimis Hutu. Pemerintah memberikan kebijakan khusus untuk para perempuan Rwanda yaitu mengikutsertakan 30% suara dan kedudukan mereka dalam lembaga pemerintahan nasional dan regional. Kegiatan perempuan dalam bidang politik pada periode 1994-2004 tersebut terlihat dari hasil yang mereka peroleh. Mereka melobi agar hakhak perempuan dibidang hukum dan warisan dapat dimasukkan kedalam konstitusi baru. Selain itu, mereka juga meyakinkan seluruh anggota parlemen bahwa keterwakilan perempuan dalam pemerintahan merupakan awal yang baik untuk sebuah proses pembangunan perdamaian Negara dimasa yang akan datang. Kini mereka memiliki hak-hak yang sebelumnya merupakan larangan yang tidak boleh dimiliki oleh perempuan. Mereka mempunyai hak yang sama untuk bekerja seperti kaum pria, hak mendapatkan warisan dari kerabat maupun suami mereka dan hak keadilan. Selain itu, untuk mendukung kegiatan mereka dalam membangun perdamaian jangka panjang di Negaranya, perempuan Rwanda mendirikan berbagai organisasi berbasis perempuan dan perkumpulan perempuan. 93 Contohnya seperti forum parlemen perempuan, Pro-Femmes Twese Hamwe, AVEGA-AGAZOHO, AFREM, FERFAP, Network of Women Striving for Rural Development, RWN dan sebagainya. Organisasi-organisasi tersebut diatas merupakan organisasi Non- Pemerintah yang sebagian besar beranggotakan perempuan, namun telah dilegitimasi dan diakui keberadaannya oleh pemerintahan Rwanda. Tujuan utama dari organisasi-organisasi tersebut adalah untuk menyatukan perempuan Rwanda di seluruh negeri, membuat mereka yang dulunya merupakan pelaku genosida agar dapat diterima lagi dalam kehidupan bermasyarakat, dan bersama-sama membangun infrastuktur dan tatanan sosial yang telah hancur akibat Genosiada 1994.. Dalam bidang ekonomi, mereka juga berpartisipasi pada kegiatan mendapatkan penghasilan yang menyumbang pada pengembangan pemberdayaan sosial ekonomi yang pada gilirannya mencari jalan maju pada pembangunan perdamaina berkelanjutan. Mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan menyekolahkan anak-anak mereka serta membantu tetangga-tetangga mereka yang masih miskin dan menderita malnutrisi. Dalam kegiatan perekonomian dan pembangunan tatanan sosial, para perempuan telah berhasil memobilisasi perempuan lainnya untuk terus bertahan hidup dan menyambung hidup mereka. Pada saat sebelum peristiwa genosida, janda memiliki konotasi yang buruk di mata msyarakat, namun saat ini, mereka mampu membuktikan bahwa janda 94 ataupun korban perkosaan dan kekerasaan pada saat genosida mampu membiayai anak-anak mereka dan menunjukkan prestasi mereka. Berdasarkan data-data yang telah diungkapkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa peran perempuan Rwanda dalam proses peacebuilding pasca Genosida 1994 di Rwanda periode 1994-2004 telah menunjukkan kemajuan pembangunan perdamaian yang signifikan baik secara kualitas dan kuantitas dalam bidang Politik, Ekonomi maupun Sosial di negaranya. Keberhasilan perempuan dalam keikutsertaan mereka yang didukung penuh oleh pemerintah Rwanda seharusnya dapat dijadikan contoh teladan bagi negara-negara lain yang memiliki latar belakang konflik yang merugikan perempuan. Perempuan patut diberikan kesempatan dan penghargaan yang sama dengan kaum lelaki.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: 300 Ilmu Sosial
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional
    Depositing User: Sri Lestari
    Date Deposited: 20 Sep 2011 14:05
    Last Modified: 20 Sep 2011 14:05
    URI: http://repository.upnyk.ac.id/id/eprint/799

    Actions (login required)

    View Item